Tidur Bukan Sekadar Istirahat: Sebuah Percakapan Tengah Malam dengan Diri Sendiri
Halo, Sahabat Seperjalanan. Jam menunjuk pukul 02:15 pagi. Saya sedang menatap langit-langit kamar, mendengarkan detak jam dinding yang rasanya lebih nyaring dari biasanya. Tubuh ini berteriak minta diistirahatkan, tapi isi kepala saya masih sibuk berlari maraton. "Kenapa belum tidur?" bisik saya pada diri sendiri. Jawabannya selalu sama: memikirkan pekerjaan yang belum selesai, mengkhawatirkan tagihan bulan depan ( Lentera Niaga ), atau memutar ulang percakapan canggung tadi siang dan merutuki diri sendiri kenapa tidak menjawab dengan lebih pintar ( Lentera Emosi ). Dulu, saya sering merasa bangga kalau bisa tidur hanya 3-4 jam. Saya menganggap begadang sebagai lencana kehormatan; bukti bahwa saya bekerja lebih keras dari orang lain. Tapi malam ini, di tengah keheningan, saya menyadari satu hal yang menampar ego saya: Saya tidak sedang bekerja keras, saya sedang meminjam energi dari hari esok dengan bunga yang sangat tinggi. Saat Otak Memohon Waktu untuk "Mandi...