Bukan Soal HP, Tapi Soal Pikiran yang Kabur
Awalnya aku mengira masalahnya ada pada teknologi. Terlalu banyak waktu layar, terlalu banyak dopamin instan. Aku mencoba detoks digital: menghapus aplikasi, menggunakan jam tangan analog, menjauhkan ponsel.
Hasilnya? Sedikit membantu, tapi akar masalahnya tetap tinggal. Bahkan saat tanpa ponsel, kepalaku masih sibuk menyusun argumen untuk perdebatan yang bahkan belum terjadi. Saat makan sendirian, otakku masih membandingkan hidangan ini dengan apa yang kumakan kemarin.
Aku baru paham: Masalahnya bukan pada gadget-nya, melainkan pada kebiasaan kita untuk meninggalkan saat ini.
Pelarian dari Ketidaknyamanan Kita dilatih untuk selalu berada di tempat lain. Di sekolah, badan di kelas tapi pikiran di rumah. Di tempat kerja, kita dihargai karena produktivitas, bukan karena kesadaran.
Seorang teman pernah berkata, "Kamu bukan kecanduan ponsel. Kamu kecanduan melarikan diri dari saat ini." Kalimat itu menohok. Kita lari ke masa lalu yang diromantisasi atau masa depan yang dikhayalkan karena "saat ini" seringkali terasa biasa saja, membosankan, atau tanpa validasi.
Bersambung ke Bagian 3: Mencari "Remote Control" Pikiran...



Komentar
Posting Komentar