Saat Hidup Terasa Seperti Tayangan yang Dipercepat



Pernahkah kamu duduk di sebuah kafe, memegang cangkir kopi favorit yang masih mengepul, namun matamu justru sibuk scrolling tanpa henti? Pasangan di hadapanmu sedang bercerita tentang harinya, tapi kamu hanya mengangguk mekanis karena pikiranmu sudah melompat jauh ke daftar pekerjaan besok pagi.

Atau mungkin saat mandi, air hangat membasuh punggungmu, tapi jiwamu sudah berada di ruang rapat, berdebat dengan klien yang sulit. Hidup terasa seperti tayangan Netflix yang kamu putar di kecepatan 1.5x—cepat, efisien, tapi kamu tidak benar-benar ingat detail adegannya.

Aku adalah Penonton di Bioskop Tubuhku Sendiri Ada masa di mana aku merasa menjadi orang asing bagi hidupku sendiri. Ini bukan depresi atau kesedihan yang gelap, melainkan perasaan hambar. Aku lulus, aku bekerja, aku naik jabatan. Secara fisik aku ada di sana, tapi jiwaku sedang mondar-mandir entah di mana. Aku hanyalah penonton di barisan belakang dalam bioskop tubuhku sendiri.

"Seharian bergerak, tapi rasanya tidak ke mana-mana. Seharian melakukan, tapi tidak merasakan."

Keresahan: Hidup yang Terjepit di Antara Notifikasi Dulu, pagi hariku dimulai sebelum kaki menyentuh lantai. Tangan sudah meraih ponsel, otak sudah dijejali puluhan informasi yang sebenarnya tidak penting. Mandi sambil mendengar podcast, sarapan sambil menonton YouTube, bekerja sambil berpindah-pindah tab browser.

Efisien? Mungkin. Tapi di ujung malam, ada kehampaan yang menganga.

Suatu sore, aku mencoba duduk diam tanpa distraksi apa pun. Dan aku terkejut: suara di kepalaku luar biasa berisik. Ada yang mengomeli pekerjaan, ada yang mengulang percakapan masa lalu, ada yang cemas tentang masa depan. Siapa sebenarnya yang memegang kendali di sini?

Bersambung ke Bagian 2: Bukan Soal HP-nya... 📌 Klik Label #40HariUtuh di bawah untuk mengikuti perjalanan ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Rasa Syukur Keluarga: Kunci Kebahagiaan di Era Serba Cepat

Seni Melepaskan: Saat Saya Berhenti Berpura-pura "Baik-baik Saja"

Berhenti Berkelahi dengan Ombak