Aku Bisa Masak Cumi Padang Tapi Lupa Bacaan Shalat: Tentang Pesta Makan & Hati yang Kelaparan

Halo, Sahabat Seperjalanan

Jurnal Ramadan, Minggu Pertama.

Halaman ini seharusnya berisi pencerahan. Tapi mari kita real aja: 

Catatanku lebih mirip buku resep yang salah semua takarannya.

🍽️ Menu berbuka seminggu ini? Pesta pora tingkat dewa.

Coba lo bayangkan:

- Kolak pisang kepok + kuah santan + pandan → manisnya bikin lupa diri 

- Es buah selasih yang berkeringat di gelas 

- Bakwan jagung keemasan (renyah luar, lembut dalam) 

- Cumi goreng tepung saus asam manis (meletup di mulut) 

- Ayam geprek sambal bawang (pedasnya nantang mati) 

- Sop buntut dengan uap rempah yang memenuhi ruang makan 

Pesta yang paripurna. 

Tuh, gue tulis aja pake font gede biar keliatan over.

⏰ Jam 8 malam. 

Perut begah. Ikat pinggang kendur satu lubang.

Adzan Isya? Berdiri rasanya kayak angkat karung beras 50 kg. 

Mulut komat-kamit, tapi otak kosong. Lupa bacaan rakaat kedua. 

Mata setengah pejam, bukan khusyuk — tapi meresapi kantuk usai perang makanan.

🤳 Dan inilah bagian paling memalukan:

Gue jujur. Sepanjang siang, pikiranku lebih sibuk planning menu takjil daripada merenungin ayat suci.

Mari kita hitung kasar:

Aktivitas

Durasi

Scroll resep di IG/TikTok

1 jam

Nyetir ke swalayan cari rempah terbaik

1 jam

Masak, keringetan di depan kompor

1 jam

Total persiapan

3 jam

Makan besar saat bedug maghrib

1 jam

Total memanjakan fisik

4 jam

 

Lalu berapa waktu untuk Tuhan? 

➡️ 15 menit shalat tergesa-gesa — biar sop buntutnya nggak dingin.

Gila nggak sih?

📱 Ada ritual baru yang lebih sakral daripada doa berbuka:

Sebelum sendok nyentuh piring, kamera hape harus nyala.

- Cari angle cahaya terbaik dari jendela. 

- Jepret sana, jepret sini. 

- Pilih filter aesthetic yang paling bikin cumi asam manis keliatan kayak di restoran bintang 5.

Lalu caption andalan:

"Alhamdulillah, nikmat mana lagi yang kau dustakan? MenuBerbuka"

Padahal di dalem hati: 

"Like nya dikit amat, kok si A cuma foto air putih dapat 50 likes sih?"

🧠 Kesadaran yang menampar di malam hari:

Aku mengira memamerkan hidangan mewah + menerima pujian adalah bentuk syukur. 

Padahal syukur yang sejati itu sederhana: rasa cukup. 

Perutku buncit kekenyangan, tapi jiwaku merintih kelaparan di sudut ruangan.

🍚 Maka gue bikin challenge untuk diri sendiri: 

Mindful Eating — 1 minggu penuh.

Aturannya cuma satu: 

Setiap adzan maghrib, gue makan tanpa pegang hape.

Gue bakal:

- Mengunyah pelan-pelan (bukan ngunyah sambil scroll) 

- Merasakan tekstur makanan 

- Merenung: Dari tanah mana sayur ini tumbuh? Tangan siapa yang masak? Izin siapa sampai bisa ada di piringku?

📝 Catatan Hari 1 Mindful Eating:

Hari pertama: SUPER canggung. Tanganku gatel banget mau raih hape. Kunyahan terasa lama dan membosankan. Tapi pas menit ke-10, saat gue bener-bener ngerasain manisnya pisang tanpa interupsi notifikasi… 

Ada setitik damai aneh yang masuk ke dada. 

Jiwaku berbisik pelan: "Makasih, akhirnya lo beneran hadir di sini."

🎯 Jadi, ini pelajaran dari episode 2 buat lo dan gue:

1. Kuliner Ramadan itu enak, tapi jangan biarkan dia mencuri fokus ibadah lo. 

2. Like dan pujian di sosmed bukanlah ukuran rasa syukur. 

3. Mindful eating itu gratis, tapi efeknya ke jiwa: mahal banget.

📢 Challenge untuk lo malam ini:

Besok pas buka puasa, coba deh matiin hape 30 menit pertama. Makan sendirian atau sama keluarga tanpa kamera. Rasain bedanya. Terus komen di sini gimana rasanya.

Karena percaya deh: 

Tuhan nggak lihat seberapa aesthetic foto kolak lo. 

Tapi Dia lihat seberapa hadir lo di setiap suapan yang lo syukuri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Rasa Syukur Keluarga: Kunci Kebahagiaan di Era Serba Cepat

Seni Melepaskan: Saat Saya Berhenti Berpura-pura "Baik-baik Saja"

Berhenti Berkelahi dengan Ombak