Aku Rajin Ibadah Tapi Jiwaku Kering: Sindrom “Pohon Rimbun” yang Sering Diamini Anak Muda
Malam. Sepi. Kopi udah dingin sejak Isya.
Kamarku gelap—sengaja. Lampu mati, cuma suara jangkrik nemenin.
Di depanku, secangkir kopi hitam yang tadinya panas sekarang malah jadi saksi bisu kegelisahan.
Luar dingin. Pori-pori merinding. Tapi bukan itu yang bikin aku nggak bisa tidur.
Aku nggak lagi lari.
Malam ini, aku memutuskan berhenti berpura-pura.
🪞 Aku menatap kaca jendela.
Bayanganku di sana lelah. Bukan karena begadang main game.
Tapi lelahnya yang numpuk pelan-pelan, di dasar jiwa. Jenis lelah yang nggak bisa lo cure dengan kopi atau tidur 12 jam.
Lalu mataku menangkap pohon beringin di sudut halaman.
Rimbun. Daunnya lebat banget, sampe nutupin lampu jalan.
Dan tiba-tiba sadar:
Pohon itu lebih jujur daripada cermin.
🍃 Daunku rimbun, tapi akarku kering.
Coba gue kasih lo fast forward sebulan ke belakang.
Puasa gue tahun ini nyaris sempurna versi manusia:
- Sahur nggak pernah kelewatan
- Tarawih di shaf depan (sok saleh abis)
- Tadarus lancar jaya
- Zakat keluarnya presisi, tepat waktu
Nilai rapornya: A.
Tapi dada gue? Hampa. Kosong. Kering kayak kebakaran hutan di musim kemarau.
Akhirnya gue ngaku:
Gue lebih cemas kehilangan validasi sosial daripada kehilangan keintiman sama Yang Maha Tahu.
Gila nggak sih?
Gue sibuk bangun personal branding orang saleh, tapi lupa ngecek niat.
🌳 Cermin lain dari pohon beringin itu:
Bagian Pohon | Makna buat gue |
Daun lebat | Ibadah yang keliatan, kedermawanan yang difoto, kata-kata bijak di status WA |
Batang kokoh | Rutinitas agama yang rapi tapi kaku |
Akar | Hubungan batin sama Tuhan, pencarian makna yang sunyi — dan ini sedang mengering |
Gue terlalu sibuk nyiram daun biar keliatan subur di mata tetangga, tapi lupa ngasih air ke akar.
Ibarat tanaman hias di Insta: aesthetic dari luar, dalemnya udah mulai layu.
✋ Malam ini gue nyerah.
Bukan nyerah beribadah. Tapi nyerah pura-pura.
Gue akui: ada yang salah dalam caraku mencintai-Nya.
Bukan salah besar, tapi palsu yang nggak disengaja. Pelan-pelan menggerogoti.
Dan gue bersyukur banget, teguran sunyi ini datang pas penghujung Ramadan — bukan pas udah lewat.
🌱 Jadi, gue mau mulai dari awal.
Bukan dari daun.
Bukan dari postingan aesthetic.
Tapi dari akar.
Gue mau copot jubah kesalehan palsu ini, bedah satu-satu, dan belajar ngedengerin suara kecil yang selama ini ketutup notifikasi.
Dan sekarang gue tanya lo:
Lo juga pernah ngerasa kayak gini?
Rajin ibadah, tapi kok hati kayak gurun Sahara?
Kalo iya, selamat. Lo nggak sendirian.
Dan ini baru Episode 1. Masih panjang jalan nyari akar yang beneran basah.
✨ Sekarang gue kasih lo tiga poin buat dibawa pulang dari episode ini:
1. Validasi manusia itu adiktif, tapi gak pernah bikin kenyang jiwa.
2. Kesalehan yang difoto ≠ kesalehan yang dirasakan.
3. Mulailah dari hal yang paling nggak keliatan: niat. Karena Tuhan nggak pake Instagram.
📝 Challenge untuk lo malam ini:
Matiin HP 10 menit sebelum tidur. Tanya diri lo:
“Hari ini, aku lebih sibuk menyiram daun atau merawat akar?”
Selamat merenung, kawan seperjalanan. 🌙
Komentar
Posting Komentar