Aku Berpuasa Tapi Membunuh Bumi Perlahan: Surat Cinta dan Maaf untuk Ibu Pertiwi

Halo, Sahabat Seperjalanan

Udara Jakarta malam itu. Lebih pengap dari biasanya.

Sisa-sisa kelelahan ngurus bisnis media bikin gue ketiduran di meja kerja. Draf artikel belum kelar. Mata pegel. Otak panik.

Tapi yang terjadi selanjutnya bukan sekadar tidur... itu mimpi yang mengubahku.

🌫️ Dalam lelap yang gelisah, sebuah surealisme menyergapku.

Di tengah ruang hampa yang kelabu, sesosok perempuan tua merangkak ke arahku.

- Kulitnya retak-retak bagai tanah kemarau di musim kemarau panjang

- Napasnya tersengal di kerongkongan, bunyinya kayak angin yang nyasar di gua

- Matanya menyorotkan kepedihan purba yang nggak bisa gue jelasin dengan kata-kata

Dia menatapku. Dan suaranya... berat, parau, penuh tuba:

"Kau kurbankan nafsu makanmu selama sebulan ini demi Tuhanmu. Tapi kau membunuhku perlahan-lahan dengan plastik-plastikmu."

Aku membeku. Mulutku terkunci. Nggak ada suara yang keluar.

💔 Perempuan tua itu merintih lagi, menunjuk dadanya yang ringkih:

"Setiap botol minum kemasan yang kau buang usai tarawih, adalah jarum beracun yang kau tusukkan ke pori-pori kulitku."

"Setiap kilometer perjalanan mudikmu dengan kendaraan pribadi yang nyaman itu, adalah asap pekat yang sengaja kau hembuskan ke dalam paru-paruku yang kian mengempis."

"Dan sisa-sisa makanan mewahmu — cumi saus padang dan rendang yang berakhir di tempat sampah — adalah lintah yang menghisap habis darah dari nadi-nadi kesuburanku."

😰 Aku terbangun. Napas memburu. Keringat dingin di tengkuk.

 

Jam dinding: pukul 3 pagi. 

Tapi bayangan perempuan tua itu nggak mau pergi dari kepalaku.

Sambil menatap langit-langit kamar yang gelap, pikiranku mulai menghitung dosa ekologisku selama sebulan penuh.

Sebuah kalkulasi naratif yang jauh lebih menyakitkan daripada ngecek neraca kerugian perusahaan.

📊 Kalkulasi Dosa Ekologis Ramadan (Versi Gue)

Aktivitas Ramadan Gue

Jejak Dosa ke Bumi

Beli takjil pake kantong kresek setiap hari

Berapa ratus lembar plastik nyasar ke TPA?

Es buah + kopi kekinian pake gelas plastik + sedotan

Jarum beracun ke pori-pori bumi, kata Ibu tadi

Mudik pake SUV pribadi, BBM oktan tinggi, macet di tol Trans-Jawa

Ratusan kg karbon buat anak cucu hirup

Sisa makanan berbuka yang nggak habis (cumi, rendang, opor)

Jadi gas metana beracun di TPA, tambah panas bumi

Beli baju baru buat Lebaran (walaupun lemari udah penuh)

Limbah tekstil yang butuh 200 tahun buat terurai

 

Gue merasa suci karena berpuasa, tapi bumi mati kelaparan dan kehausan karena keserakahanku.

Ritual agamaku melesat ke langit, tapi kakiku menginjak dan menghancurkan bumi tempatku bersujud.

Ironis banget, kan?

🌱 Rasa bersalah ini nuntut penebusan. Bukan sekadar istigfar di bibir.

Pagi itu juga, gue transfer dana ke lembaga konservasi lingkungan buat nanam 10 bibit pohon.

Catatan: 10 pohon nggak akan langsung mendinginkan bumi yang udah demam. Tapi ini permulaan. Setidaknya gue mulai gerak.

Gue juga bikin sumpah sunyi untuk Ramadan-Ramadan berikutnya:

- ✅ Bawa botol minum sendiri ke masjid 

- ✅ Tolak sedotan plastik meskipun dikasih gratis 

- ✅ Mudik naik kereta atau bus umum, tinggalkan ego "bawa mobil sendiri"

✉️ Subuh itu, gue nulis sesuatu yang belum pernah gue tulis sebelumnya:

Surat Terbuka untuk Bumi

Wahai Ibu yang rahimnya selalu terbuka menampung keserakahan kami,

Maafkan aku. Maafkan anakmu yang congkak ini.

Selama ini aku mengira ibadahku paripurna hanya karena aku berhenti mengunyah di siang hari. Padahal, tepat setelah azan maghrib, aku kembali menjadi predator yang mengoyak keindahanmu demi kenyamananku sendiri.

Aku mengklaim mencintai Sang Pencipta, tapi aku dengan sadar merusak karya terindah-Nya.

Aku mengotori sungaimu. 

Aku menebangi paru-parumu. 

Aku meracuni udaramu. 

Lalu dengan wajah tanpa dosa, aku menengadahkan tangan meminta surga.

Mulai hari ini, izinkan aku memperbaiki caraku mencintaimu. 

Izin kan ibadahku nggak hanya berbentuk doa yang mengangkasa, tapi juga langkah nyata yang memeluk akar, merawat daun, dan menjaga napasmu.

 

📱 Setelah tangis hening untuk bumi mereda, gue ambil ponsel.

Layar menyala. 

Puluhan notifikasi Instagram dari foto aesthetic yang gue unggah semalam.

Dan di detik itu juga, gue tertampar oleh kesadaran lain yang nggak kalah memalukan:

Setelah sadar pada bumi yang merintih, 

Gue tersadar bahwa selama ini gue lebih sibuk memuja like dan algoritma daripada memuja-Nya.

(Bersambung ke Episode 6...)

🧠 Tiga Pelajaran dari Episode Ini:

1. Ramadan yang hijau itu mungkin: kurangi plastik, bawa botol sendiri, mudik naik umum. 

2. Sisa makanan bukan hanya dosa kesehatan, tapi juga dosa ekologis. 

3. Kita bisa shalat malam sekhusyuk apa pun, tapi kalau masih merusak bumi, ibadah kita timpang.

📢 Challenge untuk lo:

Hitung jejak sampah plastik lo selama 3 hari terakhir Ramadan. Terus kurangi satu item per hari. Contoh: hari ini tolak sedotan, besok bawa botol minum, lusa bawa kantong belanja sendiri.

Komen di bawah: 

Lo punya kebiasaan ramah lingkungan yang udah lo terapin selama Ramadan? Atau lo baru sadar sekarang kalau ibadah lo selama ini "timpang" secara ekologis?

🔜 Episode 6: Tuhan Baru di Balik Layar Kaca 

(hint: gue ngaku kalau selama ini "like" adalah Tuhan baru yang paling gue takutin. Siap-siap buat digital detox challenge!)

Jangan cuma baca, ya. Mulai gerak. Bumi butuh gerakan kecil dari miliaran anak muda, bukan cuma doa tanpa aksi. 🌱💚

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Rasa Syukur Keluarga: Kunci Kebahagiaan di Era Serba Cepat

Seni Melepaskan: Saat Saya Berhenti Berpura-pura "Baik-baik Saja"

Berhenti Berkelahi dengan Ombak