Like Adalah Tuhanku yang Baru: Confession of a Social Media Addict di Bulan Ramadan

Halo, Sahabat Seperjalanan

[Layar Terkunci — 21:15 WIB]

Notifikasi:

Instagram   ❤️ 47 likes

            💬 3 komentar baru

Jempolku bergerak otomatis. 

Face ID recognized. 

Layar terbuka. Terang benderang menembus redupnya lampu kamar.

📸 Gue ngunjungin profilku sendiri.

Foto yang baru diunggah: 

barisan shalat tarawih berjamaah, diambil dengan low-angle biar keliatan megah. 

Filter: warm & grainy — kesan syahdu maksimal.

Caption:

"Malam ke-15, semangat terus! RamadanKareem Tarawih"

Gue scroll pelan. Baca komentar:

- `@user123:` MasyaAllah keren! 

- `@sahabat_hijrah:` Semangat kak! 

- `@senja_sore:` Fotonya aesthetic banget 🔥

🗣️ Tapi di dalam kepala, suara lain mulai teriak:

"Baru 47 likes? Serius?! Padahal gue udah ngedit brightness, contrast, sama shadow-nya 20 menit sendiri di Lightroom sebelum posting."

"Masa si A yang cuma foto sajadah burem dapet 100 likes dalam sejam?"

"Algoritmanya lagi kacang, ini mah."

👆 Tap beranda. Tap lingkaran merah muda di deretan atas.

IG Story teman.

Video handheld: membagikan kotak nasi ke panti asuhan. 

Anak-anak yatim tersenyum ke arah kamera. 

Lagu religi Maher Zain mengalun sebagai backsound.

Mataku menyipit.

"Asli ikhlas atau settingan konten, tuh?"

"Tapi lihat deh, view sama react-nya pasti meledak. Sebagai orang media, gue tahu persis algoritma menyukai konten 'tangisan' begini."

"Besok gue juga harus bikin konten sedekah deh. Bagi-bagi sembako kek. Biar dapet pahala... plus nambah likes dan followers."

📱 Swipe right. Swipe right. Swipe right.

Notifikasi: Live Streaming. 

Ustadz ternama sedang kajian malam bahas keutamaan Lailatul Qadar.

Gue masuk ke ruang live. 

Bertahan 15 detik.

"Bosan. Bahasannya berat. Ngantuk."

Swipe up.

Jempol gue beralih ke deretan Reels.

Video resep kolak pisang lumer pakai cream cheese muncul. 

Keju meleleh menggoda selera.

"Nah, ini lebih seru."

Save. Buat besok.

📴 Gue matiin layar. Kamar kembali gelap.

Dalam gulita, realitas menamparku dengan telak:

Gue mengusung idealisme sebagai someone yang peduli wellness di era digital, tapi nyatanya aku sendiri pasien paling parah yang terinfeksi.

- Screen time ponsel: angka brutal (malu kasih tahu) 

- Setiap imam ngucapin salam habis witir, hal pertama yang gue raba di kantong: bukan tasbih, tapi hape 

- Setiap tangan masuk kotak amal, tangan satunya sibuk cari angle video terbaik

"Aku selalu menghitung-hitung: berapa like yang kudapat hari ini? Berapa share? Berapa impresi?"

Dan malam ini, gue sadar satu kebenaran yang menakutkan:

Aku telah menjadikan media sosial sebagai altar tempatku menaruh sesembahan.

Dan Like adalah Tuhan baru yang validasinya paling kutakuti dan kuharap-harapkan.

📴 Maka, sebagai penebusan... gue tekan tombol Power.

Slide to power off.

Layar benar-benar mati.

Gue mencoba tantangan gila untuk ukuran manusia modern: 

DIGITAL DETOX 24 JAM PENUH.

📓 Catatan Jurnal Detox:

Jam Ke-

Kondisi Jiwa & Raga

1

Gelisah luar biasa. Tangan refleks raba saku celana setiap 5 menit. Phantom vibration syndrome — paha bergetar padahal hape mati di laci.

2

Dada sesak. Cemas. FOMO (Fear of Missing Out) menyerang. Teman-teman lagi bahas apa di grup WA? Berapa yang like foto tarawihku? Kalau ada klien yang nyariin gimana?

3

Napas mulai melambat. Kewarasan mulai mengambil alih. Gue mulai bisa melihat detail serat karpet sajadahku tanpa mikirin caption apa yang pas.

Menjelang Malam

Gue menemukan kedamaian yang ganjil sekaligus membebaskan. Maghrib itu, gue bisa beneran buka mushaf Al-Qur'an dan tenggelam dalam ayat tanpa distraksi lensa kamera. Gue shalat tanpa mikirin angle foto atau tata cahaya ruangan. Ibadahku kembali ke fitrahnya: sunyi, rahasia, dan intim.

 

🌱 Ponselku mati, dan perlahan jiwaku menyala kembali.

Layaknya ibadah yang tak lagi butuh tepuk tangan dari penonton di bangku tribun.

Tapi kemerdekaan digital ini membuka mataku pada tragedi lain:

Saat gue terlalu lama menunduk menatap layar — sibuk mengejar like, comment, dan memoles citra digital yang semu — 

Gue lupa menatap ke sekeliling.

Gue lupa pada sosok terdekat di rumahku, 

yang lelahnya paling nyata, 

namun terus bergerak tanpa pamrih apalagi pujian.

(Bersambung ke Episode 7...)

🧠 Tiga Pelajaran dari Episode Ini:

1. Like bukan pahala, share bukan sedekah, dan algoritma bukan takdir Tuhan. 

2. Digital detox itu menyakitkan di 2 jam pertama, tapi membebaskan setelahnya. Coba sendiri. 

3. Ibadah yang paling intim adalah ibadah yang nggak butuh kamera dan caption.

📢 Challenge untuk lo (GUE TANTANG BANGET):

Ambil waktu 24 jam. Matikan notifikasi semua media sosial. Atau lebih ekstrem: matikan hape selama 12 jam. Catat apa yang lo rasakan. Terus komen di bawah.

Komen di bawah: 

Berapa jam screen time lo hari ini? Jujur aja, nggak ada yang menghakimi. Kita sama-sama kecanduan.

🔜 Episode 7: Punggung yang Membungkuk di Sepertiga Malam 

(hint: gue baru sadar kalau selama Ramadan, ada orang di rumah yang jasadnya ibadahnya rela tapi hatinya lelah. Dan itu bukan malaikat tanpa nama. Itu istri/ibu gue.)

Jangan cuma di-scroll, ya. Matiin hape lo sebentar. Rasain sunyi. Rasain Tuhan. Rasain hidup. 🌙💔

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Rasa Syukur Keluarga: Kunci Kebahagiaan di Era Serba Cepat

Seni Melepaskan: Saat Saya Berhenti Berpura-pura "Baik-baik Saja"

Berhenti Berkelahi dengan Ombak